Minggu, 27 November 2022

Perjalanan Angkasa

Pagi itu, Tesa, Steven, dan Sebastian, dipanggil ke ruangan Sir Alex. Mereka tidak tahu mengapa mereka dipanggil ke ruangan atasannya tersebut. “Tes, Steve, kalian ada yang berbuat salah kah sama Sir Alex? Aku gak ngapa-ngapain deh perasaan.” Kata Sebastian. “Aku juga ngga ngapa-ngapain” Jelas Tesa. “Aku juga gak merasa berbuat salah, mungkin kita dipanggil buat hal lain, positif thinking dulu aja” Kata Steven. Mereka berjalan menuju lorong ruangan Sir Alex dengan hening dan penuh rasa tanya, hingga sampailah mereka di depan ruangannya. “Tok tok tok” Bunyi ketuk pintu. “Masuk.” Kata Sir Alex. Mereka bertiga pun bergegas masuk, dan segera duduk setelah diarahkan oleh Alice, asisten Sir Alex. “Jadi begini, kita ada misi untuk meneliti sebuah meteor yang jaraknya mulai mendekati bumi kita. Rencananya kalian bertiga lah yang akan saya kirimkan untuk misi kali ini. Kalian akan digabung dengan teman-teman dari divisi lain yang berjumlah 4 orang.” Kata Sir Alex. “Rencananya mulai kapan akan kita menangani misi ini Sir?” Tanya Tesa. “Mulai Senin depan, kalian akan langsung menangani misi ini bersama dengan anak-anak dari divisi teknisi.” Jelas Sir Alex. “Baik Sir.” Ucap Tesa, Steven, dan Sebastian. Setelah mereka keluar dari ruangan Sir Alex, raut gembira mereka tergambar dari wajah mereka. Mereka sangat tidak sabar untuk memulai misi ini, bagi mereka yang masih junior, ini adalah misi besar mereka yang pertama kali. “Wow wow wow, akhirnya kita dapet misi keren.” Ucap Steven. “Yes sir, aku jadi agak gugup ketemu anak divisi teknisi, pertama kali kita bekerja sama divisi luar.” Ucap Tesa. “Yeah, tapi pasti bakal seru dan memorable, it’s our first time, great adventure is coming.” Ucap Sebastian. Mereka begitu senang, tanpa memikirkan bahwa misi ini mungkin saja akan sangat membahayakan nyawa mereka.

Tibalah mereka di hari yang paling mereka tunggu-tunggu sedari minggu lalu, yup, benar, hari ini adalah hari dimana misi meteor mereka dimulai. Awal dari sebuah kisah persahabatan, percintaan, hingga tragedi yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan akan terjadi. “Good morning sir and miss, in 5 minutes our meeting will begin, all of the teams may enter the meeting room now, thank you.” Pengumuman terdengar. “Yuk masuk.” Ajak Tesa. Mereka bertiga pun memasuki ruangan meeting itu. Ruangan tempat para teknisi, astronaut, ahli-ahli, dan orang penting lainnya bekerja, ruangan yang menjadi saksi dari misi-misi bersejarah dan membanggakan. “Selamat datang saya ucapkan kepada seluruh peserta dalam penelitian meteor G12SK15. Misi ini akan dimulai dari hari ini hingga 1 bulan kedepan, harapannya misi ini dapat kita tangani dengan baik, selamat bekerja sama saya ucapkan.” Ucap Fesia kepala divisi teknisi. Meeting itu berjalan dengan lancar dan cukup rumit, seperti yang sudah mereka bayangkan. Meski tidak mengenal anak buah dari divisi teknisi dengan baik, namun nampaknya, mereka dapat diajak kerja sama oleh ketiga astronaut junior itu. Di meeting itu mereka bertemu dan berkenalan dengan keempat pemuda dari divisi teknisi. Ada Darren, Thomas, Jericko, dan Devanno. Mereka berempat memiliki skill berbicara yang baik saat meeting tadi, selain itu mereka juga memiliki tampang yang bisa dibilang cukup menawan, bagi Tesa. Hari-hari mereka sejak Senin itu dipenuhi dengan segala hasil penelitian yang tidak pernah mereka jumpai sebelumnya. Menarik dan cukup membingungkan bagi mereka, namun rasa antusias mereka masih tetap sama. “Eh Steve, Basti, tadi kan aku lagi ngebahas jarak meteor dan perkiraan arahnya sama Darren dan Devanno, nah kalian tau gak, Devanno kan bantuin aku neliti, eh dia bawain aku susu coklat sama biskuit gitu, hahaha jadi gimana ya.” Ucap Tesa. “Waduh waduh, ada apa ini sama bocah teknisi.” Ucap Sebastian. “Dih, ga ada apa-apa, gajelas ya kamu.” Ucap Tesa tersipu malu. Tanpa mereka berdua sadari ada Steven yang menyimak dengan senyuman yang bisa dibilang penuh arti. Semenjak Tesa, Steven dan Sebastian masih kecil, mereka sudah berteman dan menjadi sahabat hingga kini, seiring berjalannya waktu, tidak dapat dipungkiri bahwa, salah satu dari mereka menyimpan perasaan yang semakin lama, tidak bisa ditutupi lagi. Steven pernah menyukai Tesa sewaktu mereka duduk dibangku SMA, namun karena ia tidak mau merusak persahabatan mereka dengan perasaan yang ia miliki, akhirnya ia bertekad untk membuang perasaannya tersebut. Perasaan yang telah lama Steven kubur terhadap Tesa, perlahan hadir kembali, meski Steven sudah menahan rasa sukanya, namun tetap saja, lelaki mana yang bisa stay cool saat crushnya menceritakan perilaku manis lelaki lain.  Setelah hari itu, perilaku Steven mulai berbeda, ia lebih suka berdiam diri sendiri dibanding bergabung dengan Tesa, Sebastian dan teman-teman satu misi mereka. Perasaannya terhadap Tesa, semakin lama, semakin tidak tertahankan, setiap ia melihat Tesa dan Devanno bersama, ia benar-benar cemburu, rasanya ia pengen menarik Tesa dari hadapan Devanno. Namun, karena ia sekarang lagi dihadapkan dengan misi besar, ia harus tetap berpikiran dengan jernih, ia tidak mau merusak kerja sama yang telah dibangun oleh seluruh tim. “Steve temenin aku ke dorm yuk, ambil headset.” Ajak Tesa. “Ayuk Tes.” Ucap Steven. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong dorm, dan sampailah Steven di depan pintu dorm Tesa.”Sebentar ya, aku ambil barang dulu.” Ucap Tesa. “Iya Tes.” Ucap Steven singkat. setelah Tesa mengambil barang, mereka pun berjalan kembali menyusuri lorong dalam hening. “Steve kamu kenapa? Kok diemin aku sama Sebastian belakangan ini?” Ucap Tesa. “Em gapapa si Tes, aku lagi banyak pikiran aja di misi ini, sorry ya kalo aku keliatannya narik diri dari kalian.” Jawab Steven. “Kalo kamu ada masalah, kamu tau kan kita bakal selalu ada buat kamu, jangan sungkan ya Steve.” Ucap Tesa. Steven merasa bersalah, sebab ternyata perilakunya membuat kedua sahabatnya khawatir.

Seminggu sebelum misi mereka selesai, mereka mendapat  sebuah berita yang cukup buruk, meteor yang mereka teliti ternyata tidak menjauhi bumi sama sekali, justru meteor tersebut mendapat perkiraan akan menabrak bumi dalam waktu dekat. Meeting dadakan dilakukan setelah mereka mendapat kabar buruk tersebut. “Selamat malam saya ucapkan kepada seluruh tim, seperti yang telah kita ketahui, meteor G12SK15 salah kita prediksi, meteor ini dikabarkan melesat menuju bumi dengan kecepatan yang cukup dahsyat, berikut data meteor yang akan saya tayangkan.” Ucap Fesia. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Tanya Thomas. “Kemungkinan besar kita tidak akan bisa meneliti lewat jarak jauh lagi, kita harus meneliti secara langsung.” Ucap Fesia. Dalam kata lain, maksud Fesia adalah mengirimkan tim untuk meneliti di luar angkasa secara langsung. “Kalau seperti ini, kita harus mengirimkan beberapa orang dalam tim ini, untuk berangkat ke luar angkasa secepatnya mendekati meteor ini.” Ucap Sir Alex. “Apakah ada yang bersedia menjadi volunteer untuk diberangkatkan dalam penelitian luar angkasa kali ini? Tanya Fesia. Dalam situasi genting seperti ini, semua orang ingin ikut serta dalam pemberangkatan ke luar angkasa, namun melihat begitu besar resiko yang akan mereka tanggung, hanya hening yang tercipta dalam ruangan itu. “Sepertinya kalian semua takut akan resiko yang bisa menimpa kalian di perjalanan ini, tapi kalian sudah tahu kan, bahwa memang pekerjaan kalian dari awal sudah beresiko dan bisa saja nyawa kalian yang menjadi taruhannya, sekarang, saya meminta 3 nama untuk saya berangkatkan lusa.” Ucap Sir Alex dengan tegas. “Saya berseda Sir.” Ucap Tesa. Seluruh orang dalam ruangan tersebut cukup kaget dengan keputusan Tesa untuk memberangkatkan dirinya, sebab ia adalah astronaut junior yang hanya baru pernah sekali berangkat keluar angkasa, itupun dalam misi yang tidak membahayakan, namun apa boleh buat, ia sudah bulat dengan keputusannya. “Saya juga bersedia sir.” Ucap Darren. “Saya bersedia sir.” Ucap Devanno dan Steven berbarengan. “Kita hanya membutuhkan 3 orang saja, Devanno, Steven, siapa diantara kalian yang harus saya berangkatkan untuk misi kali ini?” Tanya Sir Alex. Devanno dan Steven akhirnya meminta Fesia untuk memilih diantara mereka, siapakah yang layak untuk diberangkatkan. “Dengan segala pertimbangan, saya memilih Steven untuk diberangkatkan bersama dengan Tesa dan Darren.” Ucap Fesia. Setelah meeting dadakan tersebut selesai, kondisi yang tadinya tidak genting, menjadi sebaliknya, setaip orang yang terlibat dalam misi itu, terlihat tegang, mereka semua bersiap untuk menyiapkan skenario terburuk. “Kalian baik-baik ya di sana, aku bakal tungguin kalian berdua di sini, hiks.” Ucap Sebastian sedih. “Iya Sebastian, udah jangan mikir yang aneh-aneh, kita semua pasti bakal baik-baik aja, misi ini pasti bisa kita handle dengan baik.” Ucap Tesa. Meski mereka berusaha menghibur satu sama lain, namun mereka sudah tahu bahwa misi ini sepertinya tidak akan berjalan dengan mulus.

Tibalah di hari dimana Tesa, Darren dan Steven menjalankan misi final mereka, misi pemberangkatan mendadak yang dilakukan oleh tim NASA dalam rangka penelitian meteor G12SK15. “Steve, kamu gapapa? Kok kamu keliatan sakit gitu ya?” Tanya Tesa. “Iya aku gapapa, kepala ku agak pusing dikit doang.” Jawab Steven. Tak meresa sadari, percakapan mereka terdengar oleh Sir Alex. Salah satu persyaratan pemberangkatan adalah kondisi tubuh yang sehat, sedangkan Steven dalam kondisi yang kurang fit. Tepat 3 jam sebelum pemberangkatan mereka, Steven diumumkan tidak jadi diberangkatan dalam misi ini karena kondisi tubuh yang tidak fit, alhasil posisinya langsung digantikan oleh Devanno. “Sir, kenapa posisi saya digantikan oleh Devanno, saya sehat sir, saya masih mampu untuk melakukan perjalanan misi ini.” Jawab Steven dengan tegas. “Keputusan saya sudah bulat, diluar angkasa bukanlah tempat untuk kamu bermain-main, ini adalah misi yang penting Steven, maka dari itu posisi anda saya ganti dengan Devanno, dan keputusan ini tidak bisa diganggu gugat.” Tegas Sir Alex. Keputusan ini membuat Steven kecewa, ia ingin ikut serta dalam misi ini, agar ia juga bisa mendampingi Tesa, namun apa boleh buat, keputusan Sir Alex sudah mutlak, dan sekarang ia hanya bisa berdoa agar misi ini berjalan dengan baik. “Tes, I’ll miss you.” Ucap Steven. “Hey, its fine, misi ini bakal kita jalanin dengan baik, everything will be alright, setelah misi ini, semua bakal balik normal, kita bakal jalanin misi selanjutnya bareng, tenang aja.” Ucap Tesa. “Tetep aja Tes, we’ll miss you, semoga misi ini berjalan lancar.” Meski Tesa terdengar meyakinkan Sebastian dan Steven, namun di dalam hatinya rasa cemas dan takut misi ini akan gagal, sunggulah besar.

Di waktu itu, Steven sangat ingin mengungkapkan perasaannya kepada Tesa, namun apa boleh buat, waktu yang mereka miliki sangatlah singkat, hingga akhirnya tibalah waktu dimana, roket Tesa diberangkatkan. “In ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one.” Roket tersebut pun langsung melesat pada hitungan yang pertama. Dan begitu saja akhir dari misi yang telah mereka jalankan selama 1 bulan itu. Tak disangka perkiraan mereka meleset, meteor yang selama ini mereka teliti menabrak roket yang di naiki Tesa, Darren, dan Devanno. Perasaan amarah, kecewa, sedih, dan bingung dirasakan oleh teman-teman seperjuangan di dalam misi tersebut saat tahu bahwa roket yang baru saja diterbangkan, meledak di luar angkasa karena menabrak meteor yang mereka teliti. Penyesalan di dalam hati Steven, tidak dapat ia tahan, amarah yang berkecamuk dalam dirinya, tergambar jelas dari sorot mata yang tersakiti, sahabatnya tewas dalam tragedi ini, belum sempat ia menyatakan perpisahan, namun tragedi ini lah yang memisahkannya dengan Tesa, sang pemilik hatinya sedari mereka masih remaja. “See you, when I see you Tes, I love you.” Itulah ucapan yang diucapkan Steven di hari penghormatan terakhir kepada Tesa. Begitu memilukan, sebuah pertemuan yang selalu ada akhir, entah berakhir baik atau tidak, semua pertemuan pasti memiliki akhir.

The End. 



4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Yah sedih banget Tesa mati, kapan lanjutny kak mau liat Steven jadian sama Fesia hehe

    BalasHapus
  3. cerpen nya seru, gak bikin bosen untuk membaca nya

    BalasHapus