Perjalanan Angkasa
Pagi itu, Tesa, Steven, dan Sebastian, dipanggil ke ruangan Sir
Alex. Mereka tidak tahu mengapa mereka dipanggil ke ruangan atasannya tersebut.
“Tes, Steve, kalian ada yang berbuat salah kah sama Sir Alex? Aku gak ngapa-ngapain deh perasaan.” Kata Sebastian. “Aku
juga ngga ngapa-ngapain” Jelas Tesa. “Aku juga gak merasa berbuat salah,
mungkin kita dipanggil buat hal lain, positif
thinking dulu aja” Kata Steven. Mereka berjalan menuju lorong ruangan Sir Alex dengan hening dan penuh rasa
tanya, hingga sampailah mereka di depan ruangannya. “Tok tok tok” Bunyi ketuk
pintu. “Masuk.” Kata Sir Alex. Mereka
bertiga pun bergegas masuk, dan segera duduk setelah diarahkan oleh Alice,
asisten Sir Alex. “Jadi begini, kita
ada misi untuk meneliti sebuah meteor yang jaraknya mulai mendekati bumi kita.
Rencananya kalian bertiga lah yang akan saya kirimkan untuk misi kali ini.
Kalian akan digabung dengan teman-teman dari divisi lain yang berjumlah 4 orang.”
Kata Sir Alex. “Rencananya mulai
kapan akan kita menangani misi ini Sir?”
Tanya Tesa. “Mulai Senin depan, kalian akan langsung menangani misi ini bersama
dengan anak-anak dari divisi teknisi.” Jelas Sir Alex. “Baik Sir.”
Ucap Tesa, Steven, dan Sebastian. Setelah mereka keluar dari ruangan Sir Alex, raut gembira mereka tergambar
dari wajah mereka. Mereka sangat tidak sabar untuk memulai misi ini, bagi
mereka yang masih junior, ini adalah
misi besar mereka yang pertama kali. “Wow
wow wow, akhirnya kita dapet misi keren.” Ucap Steven. “Yes sir, aku jadi agak gugup ketemu anak
divisi teknisi, pertama kali kita bekerja sama divisi luar.” Ucap Tesa. “Yeah,
tapi pasti bakal seru dan memorable, it’s
our first time, great adventure is coming.” Ucap Sebastian. Mereka begitu
senang, tanpa memikirkan bahwa misi ini mungkin saja akan sangat membahayakan
nyawa mereka.
Tibalah mereka di hari
yang paling mereka tunggu-tunggu sedari minggu lalu, yup, benar, hari ini adalah hari dimana misi meteor mereka dimulai.
Awal dari sebuah kisah persahabatan, percintaan, hingga tragedi yang sebelumnya
tidak pernah mereka bayangkan akan terjadi. “Good morning sir and miss, in 5 minutes our meeting will begin, all of
the teams may enter the meeting room now, thank you.” Pengumuman terdengar.
“Yuk masuk.” Ajak Tesa. Mereka bertiga pun memasuki ruangan meeting itu. Ruangan tempat para
teknisi, astronaut, ahli-ahli, dan orang penting lainnya bekerja, ruangan yang
menjadi saksi dari misi-misi bersejarah dan membanggakan. “Selamat datang saya
ucapkan kepada seluruh peserta dalam penelitian meteor G12SK15. Misi ini akan
dimulai dari hari ini hingga 1 bulan kedepan, harapannya misi ini dapat kita
tangani dengan baik, selamat bekerja sama saya ucapkan.” Ucap Fesia kepala
divisi teknisi. Meeting itu berjalan
dengan lancar dan cukup rumit, seperti yang sudah mereka bayangkan. Meski tidak
mengenal anak buah dari divisi teknisi dengan baik, namun nampaknya, mereka
dapat diajak kerja sama oleh ketiga astronaut junior itu. Di meeting itu mereka
bertemu dan berkenalan dengan keempat pemuda dari divisi teknisi. Ada Darren,
Thomas, Jericko, dan Devanno. Mereka berempat memiliki skill berbicara yang
baik saat meeting tadi, selain itu
mereka juga memiliki tampang yang bisa dibilang cukup menawan, bagi Tesa.
Hari-hari mereka sejak Senin itu dipenuhi dengan segala hasil penelitian yang
tidak pernah mereka jumpai sebelumnya. Menarik dan cukup membingungkan bagi
mereka, namun rasa antusias mereka masih tetap sama. “Eh Steve, Basti, tadi kan
aku lagi ngebahas jarak meteor dan perkiraan arahnya sama Darren dan Devanno,
nah kalian tau gak, Devanno kan bantuin aku neliti, eh dia bawain aku susu
coklat sama biskuit gitu, hahaha jadi gimana ya.” Ucap Tesa. “Waduh waduh, ada
apa ini sama bocah teknisi.” Ucap Sebastian. “Dih, ga ada apa-apa, gajelas ya
kamu.” Ucap Tesa tersipu malu. Tanpa mereka berdua sadari ada Steven yang menyimak
dengan senyuman yang bisa dibilang penuh arti. Semenjak Tesa, Steven dan
Sebastian masih kecil, mereka sudah berteman dan menjadi sahabat hingga kini,
seiring berjalannya waktu, tidak dapat dipungkiri bahwa, salah satu dari mereka
menyimpan perasaan yang semakin lama, tidak bisa ditutupi lagi. Steven pernah
menyukai Tesa sewaktu mereka duduk dibangku SMA, namun karena ia tidak mau
merusak persahabatan mereka dengan perasaan yang ia miliki, akhirnya ia
bertekad untk membuang perasaannya tersebut. Perasaan yang telah lama Steven kubur
terhadap Tesa, perlahan hadir kembali, meski Steven sudah menahan rasa sukanya,
namun tetap saja, lelaki mana yang bisa stay
cool saat crushnya menceritakan
perilaku manis lelaki lain. Setelah hari
itu, perilaku Steven mulai berbeda, ia lebih suka berdiam diri sendiri dibanding
bergabung dengan Tesa, Sebastian dan teman-teman satu misi mereka. Perasaannya
terhadap Tesa, semakin lama, semakin tidak tertahankan, setiap ia melihat Tesa dan
Devanno bersama, ia benar-benar cemburu, rasanya ia pengen menarik Tesa dari
hadapan Devanno. Namun, karena ia sekarang lagi dihadapkan dengan misi besar,
ia harus tetap berpikiran dengan jernih, ia tidak mau merusak kerja sama yang
telah dibangun oleh seluruh tim. “Steve temenin aku ke dorm yuk, ambil headset.”
Ajak Tesa. “Ayuk Tes.” Ucap Steven. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong dorm, dan sampailah Steven di depan
pintu dorm Tesa.”Sebentar ya, aku ambil barang dulu.” Ucap Tesa. “Iya Tes.”
Ucap Steven singkat. setelah Tesa mengambil barang, mereka pun berjalan kembali
menyusuri lorong dalam hening. “Steve kamu kenapa? Kok diemin aku sama
Sebastian belakangan ini?” Ucap Tesa. “Em gapapa si Tes, aku lagi banyak
pikiran aja di misi ini, sorry ya
kalo aku keliatannya narik diri dari kalian.” Jawab Steven. “Kalo kamu ada
masalah, kamu tau kan kita bakal selalu ada buat kamu, jangan sungkan ya Steve.”
Ucap Tesa. Steven merasa bersalah, sebab ternyata perilakunya membuat kedua
sahabatnya khawatir.
Seminggu sebelum misi
mereka selesai, mereka mendapat sebuah
berita yang cukup buruk, meteor yang mereka teliti ternyata tidak menjauhi bumi
sama sekali, justru meteor tersebut mendapat perkiraan akan menabrak bumi dalam
waktu dekat. Meeting dadakan
dilakukan setelah mereka mendapat kabar buruk tersebut. “Selamat malam saya
ucapkan kepada seluruh tim, seperti yang telah kita ketahui, meteor G12SK15
salah kita prediksi, meteor ini dikabarkan melesat menuju bumi dengan kecepatan
yang cukup dahsyat, berikut data meteor yang akan saya tayangkan.” Ucap Fesia. “Lalu
apa yang harus kita lakukan? Tanya Thomas. “Kemungkinan besar kita tidak akan
bisa meneliti lewat jarak jauh lagi, kita harus meneliti secara langsung.” Ucap
Fesia. Dalam kata lain, maksud Fesia adalah mengirimkan tim untuk meneliti di
luar angkasa secara langsung. “Kalau seperti ini, kita harus mengirimkan
beberapa orang dalam tim ini, untuk berangkat ke luar angkasa secepatnya mendekati
meteor ini.” Ucap Sir Alex. “Apakah
ada yang bersedia menjadi volunteer
untuk diberangkatkan dalam penelitian luar angkasa kali ini? Tanya Fesia. Dalam
situasi genting seperti ini, semua orang ingin ikut serta dalam pemberangkatan
ke luar angkasa, namun melihat begitu besar resiko yang akan mereka tanggung,
hanya hening yang tercipta dalam ruangan itu. “Sepertinya kalian semua takut
akan resiko yang bisa menimpa kalian di perjalanan ini, tapi kalian sudah tahu
kan, bahwa memang pekerjaan kalian dari awal sudah beresiko dan bisa saja nyawa
kalian yang menjadi taruhannya, sekarang, saya meminta 3 nama untuk saya
berangkatkan lusa.” Ucap Sir Alex
dengan tegas. “Saya berseda Sir.”
Ucap Tesa. Seluruh orang dalam ruangan tersebut cukup kaget dengan keputusan
Tesa untuk memberangkatkan dirinya, sebab ia adalah astronaut junior yang hanya baru pernah sekali
berangkat keluar angkasa, itupun dalam misi yang tidak membahayakan, namun apa
boleh buat, ia sudah bulat dengan keputusannya. “Saya juga bersedia sir.” Ucap
Darren. “Saya bersedia sir.” Ucap Devanno dan Steven berbarengan. “Kita hanya
membutuhkan 3 orang saja, Devanno, Steven, siapa diantara kalian yang harus
saya berangkatkan untuk misi kali ini?” Tanya Sir Alex. Devanno dan Steven akhirnya meminta Fesia untuk memilih
diantara mereka, siapakah yang layak untuk diberangkatkan. “Dengan segala
pertimbangan, saya memilih Steven untuk diberangkatkan bersama dengan Tesa dan
Darren.” Ucap Fesia. Setelah meeting dadakan
tersebut selesai, kondisi yang tadinya tidak genting, menjadi sebaliknya,
setaip orang yang terlibat dalam misi itu, terlihat tegang, mereka semua
bersiap untuk menyiapkan skenario terburuk. “Kalian baik-baik ya di sana, aku
bakal tungguin kalian berdua di sini, hiks.” Ucap Sebastian sedih. “Iya Sebastian,
udah jangan mikir yang aneh-aneh, kita semua pasti bakal baik-baik aja, misi
ini pasti bisa kita handle dengan
baik.” Ucap Tesa. Meski mereka berusaha menghibur satu sama lain, namun mereka
sudah tahu bahwa misi ini sepertinya tidak akan berjalan dengan mulus.
Tibalah di hari dimana
Tesa, Darren dan Steven menjalankan misi final
mereka, misi pemberangkatan mendadak yang dilakukan oleh tim NASA dalam rangka
penelitian meteor G12SK15. “Steve, kamu gapapa? Kok kamu keliatan sakit gitu
ya?” Tanya Tesa. “Iya aku gapapa, kepala ku agak pusing dikit doang.” Jawab
Steven. Tak meresa sadari, percakapan mereka terdengar oleh Sir Alex. Salah satu persyaratan
pemberangkatan adalah kondisi tubuh yang sehat, sedangkan Steven dalam kondisi
yang kurang fit. Tepat 3 jam sebelum
pemberangkatan mereka, Steven diumumkan tidak jadi diberangkatan dalam misi ini
karena kondisi tubuh yang tidak fit,
alhasil posisinya langsung digantikan oleh Devanno. “Sir, kenapa posisi saya digantikan oleh Devanno, saya sehat sir, saya masih mampu untuk melakukan
perjalanan misi ini.” Jawab Steven dengan tegas. “Keputusan saya sudah bulat,
diluar angkasa bukanlah tempat untuk kamu bermain-main, ini adalah misi yang penting
Steven, maka dari itu posisi anda saya ganti dengan Devanno, dan keputusan ini tidak
bisa diganggu gugat.” Tegas Sir Alex.
Keputusan ini membuat Steven kecewa, ia ingin ikut serta dalam misi ini, agar
ia juga bisa mendampingi Tesa, namun apa boleh buat, keputusan Sir Alex sudah mutlak, dan sekarang ia
hanya bisa berdoa agar misi ini berjalan dengan baik. “Tes, I’ll miss you.” Ucap Steven. “Hey, its fine, misi ini bakal kita
jalanin dengan baik, everything will be
alright, setelah misi ini, semua bakal balik normal, kita bakal jalanin misi
selanjutnya bareng, tenang aja.” Ucap Tesa. “Tetep aja Tes, we’ll miss you, semoga misi ini berjalan
lancar.” Meski Tesa terdengar meyakinkan Sebastian dan Steven, namun di dalam
hatinya rasa cemas dan takut misi ini akan gagal, sunggulah besar.
Di waktu itu, Steven
sangat ingin mengungkapkan perasaannya kepada Tesa, namun apa boleh buat, waktu
yang mereka miliki sangatlah singkat, hingga akhirnya tibalah waktu dimana,
roket Tesa diberangkatkan. “In ten, nine,
eight, seven, six, five, four, three, two, one.” Roket tersebut pun
langsung melesat pada hitungan yang pertama. Dan begitu saja akhir dari misi
yang telah mereka jalankan selama 1 bulan itu. Tak disangka perkiraan mereka
meleset, meteor yang selama ini mereka teliti menabrak roket yang di naiki
Tesa, Darren, dan Devanno. Perasaan amarah, kecewa, sedih, dan bingung
dirasakan oleh teman-teman seperjuangan di dalam misi tersebut saat tahu bahwa
roket yang baru saja diterbangkan, meledak di luar angkasa karena menabrak
meteor yang mereka teliti. Penyesalan di dalam hati Steven, tidak dapat ia
tahan, amarah yang berkecamuk dalam dirinya, tergambar jelas dari sorot mata
yang tersakiti, sahabatnya tewas dalam tragedi ini, belum sempat ia menyatakan
perpisahan, namun tragedi ini lah yang memisahkannya dengan Tesa, sang pemilik
hatinya sedari mereka masih remaja. “See
you, when I see you Tes, I love you.” Itulah ucapan yang diucapkan Steven
di hari penghormatan terakhir kepada Tesa. Begitu memilukan, sebuah pertemuan
yang selalu ada akhir, entah berakhir baik atau tidak, semua pertemuan pasti
memiliki akhir.
The End.